TVRI..Media Edukasi di Tengah Krisis Multidimensi

oleh: Noor Aprilia Puspitasari

Sempat terlintas di benakku, betapa remote tv mulai menjadi salah satu objek pelampiasan kekesalan, karena layar kaca ajaib itu mulai dikuasai oleh artis-artis sinetron, yang gemar melirikkan bola matanya ke sana ke mari, mengenakan high-heels di dalam rumahnya sendiri, sampai dengan saling tangis menangisi.

belum lagi berita kriminal, dari mulai pembunuhan, pemerkosaan, sampai dengan penipuan seolah memojokkan emosi penontonnya ke batas yang paling rendah., berbagai ajang kompetisi mulai menjamur mengagungkan  polling sms penonton, yang lebih menyedihkan lagi tayangan infotainment cukup mendapatkan rating yang tinggi..

Ke mana fungsi edukasi televisi??kontrol sosial?? mungkin ada..tapi hanyut diterjang arus kapitalisasi yang berorientasi keuntungan semata! Metro Tv, disusul TV One,, sebagai stasiun televisi swasta yang banyak dianggap masyarakat memiliki unsur edukasi dan informasi yang tinggi..belum tentu telah menjalankan fungsi edukasi seutuhnya.Saya sama sekali bukan bicara tentang kesempurnaan..atau tidak dilengkapinya fungsi-fungsi media massa oleh stasiun tv dengan sempurna.. Metro Tv dan Tv One menjadi dua contoh media yang memiliki target audience (segmentasi) yang jelas. mereka melakukan positioning sedemikian rupa hingga memiliki keunikan serta kekhasan dibandingkan stasiun2 Tv lainnya. Menayangkan segala bentuk informasi yang sifatnya news kepada publik. Ya..sebagian besar masyarakat di perkotaan berpendapat bahwa dua stasiun Televisi tersebut memiliki kualitas yang lebih tinggi dibanding yang lain. Apa sebabnya? lebih karena program2 yang ditayangkan sarat dengan informasi. Tidak melulu hiburan. Tapi apakah segala yang diangkat( politik, ekonomi, sosia) oleh Metro TV dapat memenuhi kebutuhan edukasi bagi anak-anak?mereka akan lebih memilih Naruto, Detective Conan, atau Avatar..!

Lalu pertayaannya..edukasi macam apa yang kiranya dibutuhkan oleh masyarakat?? Program2 yang mengangkat pengetahuan Bahasa Indonesia yang baik dan benar tidak nampak di televisi2 swasta,,padahal pada kenyataannya bahasa Ibu kita mulai luntur disikat westernisasi. Film2 anak yang memiliki nilai edukasi tinggi juga semakin jarang ditemui.. Krisis multidimensi yang sedang terjadi di bumi pertiwi saat ini ternyata tidak hanya terjadi di dunia ekonomi, plitik dan sosial…moral pun ikut mengalami krisis. Salah satu perspektif media beranggapan bahwa, ada rating tinggi=banyak iklan yg masuk, itu artinya modal menjadi penting untuk keberlangsungan media tersebut.

Lihat saja fakta yang terjadi pada stasiun kebanggaan Bangsa Indonesia di era 60-an hingga awal 90-an itu. Program-program yang memiliki nilai edukasi tinggi dikemas kurang “menjual” hanya karena minimnya biaya produksi. Kurangnya stakeholders yang berminat menaruh iklannya di TVRI juga dikarenakan sedikitnya jumlah penonton program2 TVRI dibandingkan program2 di stasiun TV lainnya.

Ada pengalaman yang cukup memotivasi saya untuk menulis topik ini.. sejak 10 tahun terakhir, saya tidak pernah menyaksikan berbagai program yang ditayangkan di TVRI karena kendala jaringan yang tidak memadai. Hanya TV swasta seperti RCTI, SCTV, INDOSIAR, dll yang menjadi referensi tayangan televisi saya dan keluarga. Sejak SMA saya mulai merasakan kejenuhan terhadap program-program televisi yang ada. Saya mulai mengurangi intensitas menonton televisi, beralih mencintai dunia radio dan internet dengan berbagai jenis aplikasinya. Namun, beberapa bulan belakangan, TV dirumah saya telah mampu menampilkan berbagai program TVRI dengan jernih dan kualitas gambar yang baik. ada banyak program yang ternyata menarik minat saya. BINAR (Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar), Gebyar Keroncong (kegemaran Kakek saya), Jurnalis Cilik (lomba), dan beberapa program lainnya. Format acara yang nampak sederhana. Namun apabila dirasakan dan dikaji lebih dalam..sarat dengan unsur informasi dan edukasi tanpa mengurangi unsur hiburan di dalamnya. Apa yang ada di benak anda? Saya KUNO? Jadul? GA Gaul???haha… Ya..saya hargai apapun pendapat yang ada..

Dengan perubahan status TVRI dari Perusahaan Jawatan ke TV Publik, maka TVRI diberi masa transisi selama 3 tahun dengan mengacu Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 2002 yang menyebutkan TVRI berbentuk PERSERO atau PT.

Melalui PERSERO ini Pemerintah mengharapkan Direksi TVRI dapat melakukan pembenahan-pembenahan baik di bidang Manajemen, Struktur Organisasi, SDM dan Keuangan. Sehubungan dengan itu Direksi TVRI tengah melakukan konsolidasi, melalui restrukturisasi, pembenahan di bidang Marketing dan Programing, mengingat sikap mental karyawan dan hampir semua acara TVRI masih mengacu pada status Perjan yang kurang memiliki nilai jual.  (Wikipedia)

Apa yang kiranya membuat TVRI dianggap kurang memiliki nilai jual? lagi pula..apa orientasi dari nilai jual itu sendiri? saya rasa sebatas “profit”. Masyarakat Indonesia senang dibuai oleh gaya hidup hedonistik. (mungkin tidak hanya di Indonesia) masyarakatnya mengutamakan kepuasan terhadap materi..kesenangan duniawi..mengagungkan prestise ketimbang prestasi. Lalu akan dibawa kemanakah media edukasi kita ini melalui keputusan diubahnya status Perjan menjadi Persero terhadap TVRI?

Apa-apaan ini..di mana peran dan tanggung jawab pemerintah??! Belajar mencari modal sendiri??modal yang ada di tangan-tangan kapitalis sejati??yang tidak lagi peduli moral dan edukasi?? ada baiknya pemegang-pemegang kepentingan di TVRI mampu megkombinasikan antara bagaimana mendapatkan modal yang besar, namun tetap memertahankan program2 yang kiranya mengandung unsur pendidikan sehingga mampu memberikan pencerahan kepada masyarakat. Setidaknya..program yang ditayangkan memiliki kualitas tayang sebagaimana televisi-televisi swasta lainnya.

One response to this post.

  1. Televisi merupakan media informasi yang sangat bagus sekali karena lebih unggul di banding dengan media lain karena berisi materi audio dan visual..pertanyaan sekarang adalah kenapa kualitas gambar dan penyajian acara di TVRI kurang baik dan jawaba-nya terletak pada sumber dana.

    sebuah acara yang baik memerlukan sumber pendanaan yang tidak sedikit sedangkan sumber utama penghasilan televisi berasal dari iklan. sedangkan si pemasang iklan akan menganalisa rating acara televisi, salah satu sumber patokan rating berasal dari AGB Nielsen Media Research Indonesia.

    Dahulu keunggulan TVRI dibanding dengan TV swasta nasional terletak pada jaringan TVRI yang sudah mencapai seluruh indonesia, seiring waktu kini TV swasta sudah mencapai seluruh indonesia dengan keunggulan dalam hal kualitas gambar serta sajian. ditambah muncul-nya TV2 lokal indonesia yang makin memojokan posisi TVRI.

    hal yang wajar apabila kualitas gambar serta penyajian dari TVRI kalah jauh dari TV2 swasta, kalo bisa saya bilang TVRI itu “hidup segan mati tak mau” sebenarnya masih ada solusi untuk keberlangsungan hidup TVRI agar dapat bersaing dengan TV2 swasta yaitu kembalikan ke publik dengan mengharapkan donasi dari rakyat indonesia.

    namun yang disayangkan kebanyakan rakyat indonesia enggan berdonasi tapi giat mencari yang gratis2 hahaha…masih ingatkah dengan pajak televisi yang dahulu sering diminta ke rumah2 penduduk.

    thanks

    btw blog-nya, bahasanya terlalu serius tapi asik ko bacanya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: