Technological Determinism Vs Cultural Materialism

images vsMasyarakat pada hakikatnya akan selalu mengalami perubahan, yang dapat kita sebut sebagai perubahan sosial. Perubahan tersebut disebabkan oleh banyak faktor diantaranya, adanya penemuan baru(discovery), migrasi, kelahiran (natalitas), kematian (mortalitas), bencana alam, dan lain sebagainya. Kemunculan teknologi merupakan salah satu bentuk penemuan baru di dalam masyarakat yang dianggap sebagai agen perubahan sosial. Technological determinism adalah sebuah teori serta paham yang mendukung pernyataan tersebut. Sedangkan di lain pihak, Cultural materialism menyatakan bahwa perubahan sosial dipengaruhi oleh kebutuhan sosial, ekonomi dan politik. Sehingga teknologi tidak lagi menjadi agen perubahan sosial. Paham ini menekankan pada studi budaya, serta bagaimana hubungan antara teknologi dengan budaya sehingga menghasilkan perubahan sosial.
Masyarakat beranggapan bahwa teknologi memiliki peranan penting dan pengaruh yang sangat kuat dalam kehidupannya. Pada kenyataannya hal tersebut sulit untuk dipungkiri. Sebagai contoh, dalam aktivitas kita setiap hari selalu bersentuhan dengan teknologi. Alarm yang membangunkan kita setiap pagi, kendaraan yang kita gunakan, televisi yang kita jadikan sebagai salah satu sumber informasi, komputer, telepon selular, dan masih banyak lagi. Kenyataan tersebut mendasari lahirnya teori atau paham determinism yang dipelopori oleh seorang teoritikus bernama Thorstein Veblen di tahun 1920. Menurutnya, teknologi menjadi robot penggerak manusia dalam beraktivitas, sehingga kita seolah tidak berdaya untuk menolak keberadaannya. Kehadiran teknologi ini lah yang memicu terjadinya perubahan sosial atau budaya di dalam masyarakat.

Seiring perkembangan teknologi, seorang teoritikus asal Kanada, Marshall McLuhan, hadir dengan teorinya mengenai teknologi komunikasi (media massa). Ia menyatakan melalui teorinya bahwa segala bentuk teknologi merupakan kepanjangan tangan dari kemampuan manusia. Menurutnya, pesan media bukan ada pada isi media tersebut, melainkan ada pada media itu sendiri. Media mampu mengubah cara pandang kita terhadap dunia atau lingkungan kita. Sebagai contoh, apa yang terjadi saat kita menyaksikan tayangan televisi yang memberitakan tentang pencabulan anak di bawah umur?? Maka dalam percakapan kita dengan orang lain akan membahas mengenai hal tersebut. Dengan demikian perubahan sikap akan terjadi saat kita semakin memperhatikan dan mengawasi aktivitas anak-anak kita sehingga dapat terhindar dari tindakan pencabulan seperti yang diberitakan oleh televisi. McLuhan juga menyebutkan dalam teorinya bahwa media menjadi penghubung antara kita dengan dunia luar. Ia menyebutnya sebagai fenomena “global village” yang berarti bahwa media menjadikan dunia seolah sebuah kesatuan yang memiliki sistem politik, ekonomi, serta sosial budaya, serta masyarakatnya selalu dapat terhubung satu sama lain melalui media elektronik tanpa batas.
Menurut McLuhan dan Fiore dalam Richard West dan Turner (2007: 464-466), membagi empat era komunikasi yaitu, [1] tribal era, berbicara menjadi media komunikasinya, sehingga manusia menggunakan kemampuan mendengar sebagai media menerima pesan. Masyarakat meyebarluaskan tradisi,budaya,serta adat istiadat melalui percakapan. [2] Literate era, menulis dan membaca menjadi media komunikasinya, Mata menjadi panca indera yang dominan digunakan untuk membaca berbagai hal yang ingin dikomunikasikan. [3] Print era, muncul mesin cetak dan merupakan awal dari revolusi industri, buku menjadi media komunikasi yang dicetak secara masal dan dapat disebarluaskan sehingga seluruh masyarakat dapat menggunakannya sebagai sumber informasi. [4] electronic era, media komunikasi berbentuk barang-barang elektronik seperti radio, tv, telegram, dan lain-lain. Era ini memungkinkan setiap orang di belahan dunia manapun dapat berhubungan dengan orang lain di belahan dunia yang berbeda, sehingga muncul konsep “global village” yang telah disebutkan di atas.

Seiring dengan perkembangan teknologi, terlebih saat era elektronik dimulai, muncul teknologi internet yang semakin memudahkan manusia dalam mengakses segala bentuk informasi di belahan dunia manapun. Teknologi internet menawarkan “dunia” lain (dunia maya) yang tampak lebih sempurna dibandingkan dunia sebenarnya.
Dunia maya memungkinkan kita menciptakan lebih dari satu identitas diri serta karakter yang berbeda-beda. Segala bentuk halusinasi, imajinasi seseorang dapat divisualisasikan melalui internet (cyberspace). Terlebih lagi, Dunia maya mampu membuat kita mengetahui banyak hal mengenai suatu tempat di belahan dunia lain, walaupun kita tidak sedang berada di sana atau pernah mengunjungi tempat tersebut.
Seorang teoritikus yang teorinya sangat provokatif dan tak kalah mengundang kontroversi ialah Jean Baudrillard dengan teori simulasi teknologinya (technologies of simulacra). Melalui teorinya ia menyatakan bahwa budaya kontemporer yang semakin berkembang merupakan hasil simulasi teknologi (media massa). Teknologi media massa berupaya mengemas sebuah realitas jauh dari realitas yang sebenarnya (hyper reality). Baudrillard memodifikasi teori McLuhan yang menyebutkan “medium is the message” menjadi “medium is the model”. Baudrillard ingin menyampaikan bahwa media merupakan model dari perilaku, persepsi, serta pengetahuan masyarakat terhadap lingkungannya. Sehingga realitas yang ada di dalam masyarakat diangkat oleh media massa, namun realitas tersebut dikemas secara berlebihan.
Contoh dari realitas yang dikemas secara berlebihan ialah iklan dan video klip. Visualisasi yang digunakan oleh sebuah iklan dan video klip merupakan gambaran atau model dari realitas yang ada di masyarakat, namun hampir semua iklan dan video klip mengemasnya secara berlebihan, sehingga semakin menjauhkan realitas yang ada di iklan atau videi klip dari realitas sebenarnya. Simulasi yang dilakukan oleh media massa pada kenyataannya diterima oleh masyarakat. Segala bentuk aktivitas sosial manusia yang memerlukan proses, saat ini kurang diminati. Contohnya, banyak orang lebih memilih mengirim e-mail daripada berkomunikasi secara langsung, orang lebih memilih menonton televisi seharian penuh daripada melakukan interaksi sosial dengan orang lain, dan lain sebagainya.

Setelah Thorstein Veblen, McLuhan, dan Boudrillard muncul dengan paham determinism, berikutnya muncul seorang teoritikus beraliran sosialis bernama Raymond Williams. Ia menyanggah teori yang dianut oleh ketiga teoritikus di atas yang cenderung mengarah kepada paham kapitalis. Menurutnya, perubahan sosial bukanlah semata-mata disebabkan oleh keberadaan teknologi di dalam masyarakat, tetapi juga memertimbangkan pengaruh budaya, ekonomi, serta politik masyarakat yang bersangkutan.
Media massa yang identik dengan penggunaan teknologi dipengaruhi oleh dua kekuatan besar yaitu, keuntungan (profit) dan kekuatan politik atau pemerintah (power). Media massa atau teknologi semata-mata hanya menjadi media bagi pemerintah dan pihak-pihak yang berkepentingan dalam memicu terjadinya perubahan sosial. Hal tersebut sejalan dengan pemikiran Williams bahwa perubahan sosial disebabkan adanya perubahan budaya, persepsi masyarakat, ekonomi, serta kontrol pilitik.
Williams juga mengritik teori yang diungkapkan oleh McLuhan sebelumnya yang tidak menghiraukan beberapa faktor pemicu perubahan sosial diantaranya, kebutuhan sosial, kepentingan ekonomi, kontrol politik, dan kebijakan pemerintah. Jika paham determinism menekankan teknologi sebagai agen perubahan sosial, lain halnya dengan Williams dengan teori kultural materialismenya yang beranggapan bahwa perubahan sosial akan terjadi saat kebijakan-kebijakan politik dan ekonomi dipublikasikan melalui teknologi komunikasi massa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: